Mahasiswa Dan Jiwa Nasionalisme

Mahasiswa Dan Jiwa Nasionalisme

Oleh : Ali Wahyudin

(STIE Pelita Bangsa, April 2019 )

“Jaya Indonesia, kita semua tau bahwa nenek moyang kita adalah seorang pelaut. Dan dengan melihat saat ini, Indonesia seperti kapal tua. Yang berlayar tak tau arah. Arahnya ada, hanya nahkoda kita yang tidak bisa membaca. Mungkin dia bisa membaca, tapi tertutup hasrat membabi buta. Hasrat hidupi keluarga, saudara dan kolega. Indonesia itu memang seperti kapal tua dengan penumpang berbagai rupa. Ada dari sumatera, jawa, madura, sumbawa hingga papua bersatu dalam Nusantara.”

Sejarah telah mencatat bahwa di negeri ini mahasiswa punya peranan sangat penting pada perubahan bangsa Indonesia. Peranan atau pengaruh mahasiswa dalam sejarah bangsa ini tidak dapat diabaikan begitu saja. Pergerakan mahasiswa ini diawali dari buah pemikiran para pemuda yang sedang berkuliah di STOVIA (sekarang FK UI). Para calon dokter muda tersebut menyadari bahwa nasib masa depan pemuda bangsa ini masih belum jelas, jangankan Sejahtera merasakan merdeka pun mereka masih berfikir  ribuan kali. Kesadaran tersebut membuat para mahasiswa kala itu menyatukan Pikiran untuk Bersama sama mengusir dan melawan para penjajah dengan tujuan untuk bangkit dan Merdeka.

Nama nama besar seperti Presiden dan Wakil Presiden pertama kita yaitu Bapak Ir. Soekarno dan Bapak H Mohammad Hatta adalah dua mahasiswa yang bergerak aktif untuk melawan penjajah pada waktu itu yang mana Ir Soekarno menjadi mahasiswa di ITB dan M Hatta di Belanda. Kata kata mereka tajam, kritikan mereka keras, semangat mereka membara, intelektualnya tinggi khas pemuda khususnya Mahasiswa.

Menolak Lupa Sejarah

Dalam sejarah bangsa ini, mahasiswa dan masyarakat mampu menjatuhkan dua Orde, Orde Lama dan Orde Baru. Tragedi Tiga Tuntutan Rakyat atau yang kita sebut sebagai Tragedi TRITURA pada tanggal 12 Januari 1966 yang mana KAMI ( Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia ), KAPI ( Kesatuan Aksi Pelajar Indonesia ), KAPPI ( Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia ), KABI ( Kesatuan Aksi Buruh Indonesia , KASI ( Kesatuan Aksi Guru Indonesia ), KAWI ( Kesatuan Aksi Wanita Indonesia ) dan TNI bersama sama memberikan tiga tuntutan kepada Pemerintah pada waktu itu karena kondisi bangsa yang sudah mulai goyah Pasca kemerdekaan di tahun 1945. Tiga Tuntutan yang diajukan kepada pemerintah yaitu :

  1. Pembubaran PKI Beserta Ormas Ormasnya
  2. Perombakan Kabinet Dwikora
  3. Menurunkan Harga Pangan

Baca juga artikel yang lain :

Story Telling

Dan pada saat yang sama kondisi Stabilitas Indonesia sebagai suatu negara terganggu, lantaran terdapat banyaknya masalah dari segi ekonomi maupun politik.

TRITURA inilah merupakan cikal bakal keluarnya SUPERSEMAR 1966 atau Surat Perintah Sebelas Maret yang diberikan Presiden Soekarno kepada Panglima Angkatan Darat Waktu itu Jenderal Soeharto yang kelak menggantikan Soekarno di tampuk kekuasaan tertinggi di negeri ini selama 30 tahun kedepan.

Setelah itu tentunya yang masih kita sering jumpai dan menjadi topik topik di mata kuliah kita yaitu pergerakan penting yang di pelopori Mahasiswa di tahun 1998 dimasa Orde Baru, yang mana hampir seluruh mahasiswa di Indonesia melakukan unjuk rasa di daerah daerah untuk menuntut lengsernya Presiden Soeharto yang sudah berkuasa kurang lebih 30 Tahun. Unjuk rasa yang paling tersorot adalah unjuk rasa di Ibu Kota Jakarta pada tanggal 18 Mei 1998 yang mana ribuan Mahasiswa menguasai Gedung DPR selama seharian setelah sebelumnya di tanggal 12 Mei 1998 ada kejadian Penembakan oleh Polisi kepada 4 Mahasiswa Universitas Trisakti dan semuanya Tewas setelah diterjang peluru tajam ketika berunjuk rasa di lingkungan Kampus dengan tuntutan yang sama “menuntut lengsernya Presiden Soeharto.

Tidak lama setelah unjuk rasa bersejarah tersebut, akhirnya Presiden Soeharto mundur dari jabatan tertinggi pada tanggal 21 Mei 1998 setelah tidak adanya dukungan untuk dirinya bertahan sebagai Presiden. Hal ini juga di tandai dengan Era Baru bangsa Indonesia yaitu Era Reformasi.

Pasca Reformasi

Tiga belas tahun reformasi bergulir, mahasiswa diakui sebagi actor kunci suksesi terbesar dalam sejarah perpolitikan di Indonesia ini. Momentum itu adalah expresi kekecewaan mahasiswa yang memuncak, mahasiswa menyandang gelar “Maha”karena berhasil mengeyampingkan egosentrismenya untuk mengibarkan bendera bendera organisasi, ideologi maupun golongan. Mereka bergerak atas nama mahasiswa yang berpihak pada kebenaran memulai kehidupan Indonesia yang lebih baik dan demokratis. Walaupun belakangan banyak yang melakukan klaim atas keberhasilan reformasi.

Saat ini mahasiswa ada, tetapi dinilai belum terasa keberadaanya, baik sebagai maha siswa ataupun sebagai agent of change. Mahasiswa yang semestinya menjadikan perjuangan kebangsaan sebagai nafas perjuangan kini tengah terkooptasi dalam dunianya masing masing. Mahasiswa belajar untuk dirinya, bekerja untuknya, berjuang demi masa depannya. Untuk itulah perlu bagi kita sebagai mahasiswa memahami kembali tentang nilai nilai perjuangan mahasiswa yang sangat penting bagi kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Catatn Untuk Para Mahasiswa”

Jika idealisme adalah kemewahan, akan di isi dengan apa periode kalian sebagai mahasiswa. Belajar tentu keharusan yang tak boleh di abaikan. Namun merugilah belajar disempitkan semat perkuliahan. Nikmati kehidupan kampus dengan terus mengasah jangan habiskan waktu dengan berkeluh kesah. Karena kalian adalah anak muda pilihan yang berkesempatan merengguk dalamnya sumur ilmu pengetahuan. Bacalah sebanyak banyaknya buku, bukan main gadget melulu. Kongkow kongkow boleh saja apalagi di skretariat organ Mahasiswa. Kenali sebaik baik temanmu, hayati masyarakat disekelilingmu. Agar kampus tak menjelma menjadi tembok yang memenjarakan mu. Beranilah mengambil Pendirian dalam banyak persoalan, anak muda kok sudah hobi cari aman dengan bersikap netral netralan. Tinjulan kemapanan dengan kepalan tangan. Lawanlah kejumudan dengan kenengatan membuat terobosan. Jangan takut terantuk, dengan jatuh kau terbentuk. Sebab Indonesia memang ditemukan dan diusahakan oleh anak anak muda. Kalian pula lah yang semestinya memperbaharui tanah air kita.
~ Najwa Shihab ~

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Solve : *
4 ⁄ 2 =


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Share via